Senin, 06 Januari 2014

Bukan yang Punya Mobil yang Kaya, Tapi yang Hemat Energi yang Peduli Bangsanya



"Inikan data, cadangan minyak kita itukan tinggal sembilan tahun, begitu gak ada lagi minyak di Indonesia yang milik kita, apa lagi yang akan kita lakukan kalau bukan impor? Ya pasti impor dong, lah wong sekarang aja udah impor. Importir minyak terbesar di dunia sekarang, apalagi nanti setelah sembilan tahun, kalian bayangkan,"
Anggota Komisi VI DPR-RI Edhy Prabowo

Begitulah sekarang keadaanya, negara yang kita bangga-banggakan akan sumber daya alam yang melimpah ini ternyata pengimpor besar minyak. Siapa yang disalahkan dengan kondisi seperti ini ? apakah pola hidup manusia-manusia kelas atas yang tiap detik  menjadi konsumen besar BBM bisa kita salahkan ? tentu menjawab pertanyaan itu kita tidak bisa berdalih sepihak, toh semua orang juga tidak bisa lepas dari BBM. Mulai dari kegiatan industri, transportasi, hingga kebutuhan pangan keluarga pasti tidak lepas dari yang namanya Bahan Bakar Minyak atau yang kita kenal dengan sebutan BBM.
Fenomena tersebut memang masalah yang sangat pelik dan butuh waktu yang lama untuk mengatasinya. Namun, apakah kita salah menghemat penggunaan BBM ini melihat harga BBM yang semakin melambung dan sebanding dengan semakin sedikitnya cadangan BBM yang kita miliki. Terlepas dari itu, kita tak bisa pungkiri bahwa pola hidup rakyat indonesia yang konsumerisme semakin menjerat dan memperkeruh masalah tersebut. Memang logika tak bisa berjalan untuk negara yang masih berkembang ini, mudah saja kita masuk dalam perangkap industri modern. Mudah sekali masyarakat kita membeli barang-barang mahal imporan luar negeri, seperti yang lagi marak-maraknya adalah mobil.
Sudah krisis ekonomi, mobil dibandrol harga murah. Niatannya memang baik, namun apa yang bisa diharapkan dari pola konsumsi BBM yang meningkat seiring dengan pemakaian mobil yang merajalela. Harusnya kita sadar bahwa pola modern kita yang kemobil-mobilan, jusru akan berdampak negatif pada kondisi minyak kita. Hal penting yang harus kita tahu bahwa setiap hari kita impor minyak sebanyak 150 juta dollar AS atau sekitar 1,7 triliun perhari (kompas.com). Bagaimana bila konsumsi akan mobil tiap hari bertambah, pasti angka diatas akan melonjak lagi.

Sudah saatnya kita sadar bahwa bangsa maju bukan identik dengan masyrakatnya yang terlihat kaya dan berpenghasilan tinggi dengan mengendarai mobil. Katakanlah dalam satu keluarga besar yang terdiri dari sepuluh orang maksimal hanya ada dua mobil. Jangan sia-siakan cadangan minyak kita hanya dengan penggunaan mobil setiap harinya. Apakah kita bisa bayangkan bila setiap keluarga besar yang terdiri dari 10 orang yang sebenarnya bisa punya mobil 5 (untuk usia punya SIM) namun kita batasi dengan 2 mobil saja, sehingga dalam penggunaanya sudah hemat 3 mobil ? dan itu artinya kita hemat 3 kali lebih penggunaan BBM. Hal semacam itu  kita harus sadar betul, walupun sepele tapi berdampak besar bagi kelangsungan cadangan energi minyak kita.
Kondisi Energi Minyak Indonesia
            Definisi dari BBM (bahan bakar minyak) adalah jenis bahan bakar (fuel) yang dihasilkan dari pengilangan (refining) minyak mentah (crude oil). Minyak mentah dari perut bumi diolah dalam pengilangan (refinery) terlebih dulu untuk menghasilkan produk-produk minyak (oil products), yang termasuk di dalamnya adalah BBM. BBM dibagi menjadi dua jenis yaitu PSO (subsidi) dan Non PSO (tidak bersubsidi) yang di desain sesuai kebutuhan dan jenis kendaraan yang menggunakannya. BBM PSO terdiri dari Premium, Minyak Tanah, Minyak Solar dan Bio Solar, sedangkan BBM Non PSO terdiri dari Pertamax, Pertamax Plus, Bio Pertamax dan Pertamina Dex. (ITS nondegree)
            Terlepas dari pengertian BBM diatas, yang paling penting adalah mencermati kondisi BBM terkini kita. Baru-baru ini seperti yang dilansir oleh Liputan6.com bahwa, cadangan minyak kita hanya tinggal 3,7 milyar barel itu artinya masih jauh dari cadangan minyak negara Asia Tenggara lainnya dan masih dibawah Vietnam. Hal tersebut sangatlah kontras dengan apa yang kita ketahui selama ini bahwa negara kita adalah salah satu yang terbesar dalam urusan sumber energi minyak. Ternyata kita persepsi kita salah kaprah, bahkan Indonesia hanya memiliki 0.3% dari cadangan minyak dunia atau 1/1000 dari negara Venezuela yang sekitar 300 milyar. Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan Wakil Menteri ESDM, Susilo Siswoutomo bahwa kita tidak boleh berlagak kaya negara Venezuela, nasionalisasi ini, ini segala macam, lebih-lebih jika dibandingkan dengan negara Arab Saudi yang sekitar 270 milyar dan Qatar yang lebih banyak lagi, padahal rakyat Indonesia jumlahnya mencapai 250 juta jiwa, ibarat produksi sedikit, dibagi 250 juta tentunya cadangan kita tidak akan cukup.
            Melihat keadaan diatas pasti kita bertanya-tanya lantas bagaimana dengan perusahaan-perusahaan minyak yang ada di Indonesia. Fakta lain membuktikan bahwa eksplorasi sumber minyak baru di Indonesia ternyata mengalami kendala biaya, karena untuk eksplorasi onshore saja membutuhkan biaya 30 juta dollar, belum lagi akan bertambah untuk eksplorasi offshore. Sekali gali gagal artinya uang sebesar itu melayang, apalagi letak energi minyak Indonesia melimpah didalam laut yang sangat dalam, sehingga perlu banyak pertimbangan untuk eksplorasi. (Situs Resmi ESDM)
            Melihat kondisi tersebut jalan satu-satunya adalah dengan impor BBM. Sudah bukan waktunya lagi kita impor berlebihan untuk memfasilitasi perkara yang sepenuhnya tidak bermanfaat bagi bangsa. Sudah waktunya kita menghemat BBM dan sadar akan terancamnya cadangan energi minyak kita. Siapa yang mau bangsanya impor BBM hingga 140 jutaan liter perhari ?
Ironi Produksi Mobil Murah di Indonesia
            Ritzer menyebutkan, dari moderenisme melahirkan dua paham yang tidak saja berbeda, tetapi bertentangan, yakni kapitalisme dan sosialisme. Artinya, modernisme yang diusung Barat adalah sistim berpikir atau sisitim rasional yang tidak saja membuat orang lupa kepada jati dirinya, tetapi juga akan semakin bingung dalam menuntaskan masalah hyang dialaminya. Pada akhirnya, moderenisme akan membawa manusia pada kehancuran tak terkirakan.
            Memang rasanya bangsa ini telah terjebak pada modernisasi yang membutakan dari mana kita berasal. Kehidupan modern, kemobil-mobilan nampaknya tak bisa lepas dari bangsa ini. Bayangkan saja mulai dari masyrakat berekonomi rendah,menengah,hingga golongan kelas atas, sekarang nampaknya sudah tak asing lagi dengan mobil. Entah mobil kisaran 50 juta kebawah, 100 juta kebawah, hingga mobil-mobil mahal yang dimiliki oleh kaum elite. Padahal tak selamanya kita butuh mobil, kita punya angkutan umum yang dapat beroperasi 24 jam penuh. Apakah fasilitas akan itu sangat kurang sehingga mengharuskan kita untuk punya mobil ? saya rasa jumlah angutan umum mulai yang menghubungkan antar kota hingga provinsi sudah melebihi cukup.
            Pendapat saya akan itu sepertinya tidak sejalan dengan apa yang diterapkan oleh negara yang masih kocar-kacir ini. Beberapa bulan lalu pemerintah atas nama subsidi tepat sasaran dan penghematan BBM, dan sekarang atas nama rakyat kecil, pemerintah meluncuran mobil murahnya. Ironisnya mobil itu bukanlah mobil ESEMKA yang telah kita kenal, namun justru 60 % komponen mobil buatan luar negeri. Padahal kita tahu mobil-mobil tersebut bukanlah mobil yang berteknologi terbarukan, namun masih tetap sama seperti yang lainnya. Masih butuh yang namanya bensin dan minyak bumi, bukan biofuel dan hibrida. Secara logika meningkatnya permintaan konsumen pasti akan menekan cadangan energi minyak kita. Bukannya sekarang kita harus berhemat? Tapi?
            Beberapa kaum awam berpendapat bahwa mobil-mobil murah tersebut tidak memanfaatkan subsidi dari pemerintah. Tapi coba kita pikir, apakah permintaan akan BBM akan turun dengan hal itu? Tentu semakin marak peredaran mobil-mobil tersebut di masyarakat pasti akan memakan cadangan BBM yang makin banyak pula. Setiap kenaikan 1% penjualan mobil tersebut akan menambah defisit neraca minyak bumi hingga 0,64% (okezone.com). Produksi semacam ini sebenarnya juga bertentangan dengan ide awal pengurangan subsidi BBM yang bertujuan untuk mengurangi pemakaian bahan bakar fosil dan mendorong orang untuk menggunakan energi alternatif. Mobil murah ini bahkan tidak mengakomodasi gagasan pengalihan bahan bakar minyak ke gas seperti yang pernah dikampanyekan dulu atau biofuel 2010-2011. Konsep mobil murah ini yang masuk dalam green-economy seharusnya jauh lebih luas daripada sekedar membangun mobil ramah lingkungan.
Pembatasan Penggunaan Mobil di Dalam Suatu Keluarga
            Barangkali kita yang ngaku orang kaya punya lebih dari dua atau bahkan ada yang punya lebih dari lima mobil di rumah. Hal tersebut dalam teori saya seharusnya dihindari, mengapa saya berpikiran seperti itu? Kondisi masyarakat yang konsumtif, bahkan seorang pelajar yang belum bisa mencari penghasilan sendiripun sudah bisa keluyuran naik mobil sendiri. Padahal apakah manfaat tindakan seperti itu melihat masih ada fasilitas umum yang tentunya akan sama-sama menguntungkan. Atau sekedar memiliki  mobil untuk kepuasan dan kegengsi-gengsian, padahal mobil terssebut tidak bermanfaat lebih kecuali itu. Memang mobil sangat penting untuk kita-kita yang memang benar –benar membutuhkannya dan keperluan yang benar-benar mendesak, namun untuk contoh-contoh tadi apakah memang benar bermanfaat ? Melalui hal-hal kecil seperti itu sebenarnya kita bisa menganilisa dari mana saja kita bisa menghemat pemakaian BBM dari perilaku setiap keluarga. Karena mengemat pemakaian satu mobil saja yang biasanya dapat digunakan berkilo-kilo dan membutuhkan berliter-liter BBM tentu jika dikali dengan total jumlah keluarga pastinya akan menghemat jumlah BBM yang lumayan besar tiap harinya.
            Untuk menjawab itu saya mencoba melakukan simulasi dengan kalkulasi dengan sampel yang kecil. Semisal dalam suatu keluarga saya paparkan sebagai berikut:
  1. Satu keluarga besar terdiri dari 10 anggota keluarga
  2. Terdiri dari 3 keluarga kecil
  3. Ada 5 orang disitu yang memiliki mobil
Suatu saat keluarga tersebut mengadakan refreshing pergi kesuatu tempat yang jauhnya 100 km dari tempat mereka berangkat. Rata-rata mobil yang mereka punya berbahan bakar bensin (1 liter = 6.500 rupiah) .Kemudian mobil yang lagi pasaran sekarang, kira-kira dapat dinaiki oleh setidaknya 5 orang. Namun mereka justru menggunakan 5 mobil sekaligus, padahal sebenarnya dengan 2 mobilpun juga bisa.
Melalui sedikit masalah diatas saya coba paparkan kalkulasi singkatnya :
  1. Harga bensin 1 liter = 6.500 rupiah
  2. 1 liter bensin dapat menempuh jarak 8 km (rata-rata)
  3. Jarak yang ditempuh 2* 100 km = 200 km
Kalkulasinya :
@mobil = (200/8 )*1 = 25 liter
@mobil = 25 liter * 6.500 rupiah = 162.500 rupiah
Karena keluarga tersebut memakai 5 mobil, maka :
5 mobil = 5*162.500 = 812.500 rupiah atau 812.500/6.500 = 125 liter 
Jika keluarga tersebut dapat menghemat 3 mobil atau dalam artian hanya memakai 2 mobil, dimana satu mobil diisi oleh 5 anggota kelauarga, maka :
2 mobil =2* 162.500= 325.000 rupiah atau 325.000/6.500 = 50 liter

      Terlihat nyata perbedaan pada data diatas antara pemakaian 5 mobil dibanding 2 mobil dengan variabel yang sama. Jadi dengan pemakaian 2 mobil pada kasus diatas dapat menghemat (125 liter – 50 liter ) = 75 liter atau 75*6.500 = 487.500 rupiah untuk satu keluarga besar saja yang terdiri dari 10 orang anggota. Bisa kita bayangkan jika hanya ada sepuluh ribu keluarga besar ( 10.000 *10 = 100 ribu orang ) yang melakukan perjalanan tiap harinya (belum termasuk pengendara individu lainnya ) , maka kita akan menghemat 75 liter *10.000 = 750.000 liter perhari atau setara 750.000 liter/158 = 4746 barel BBM perhari hanya untuk kasus kecil diatas.
      Melalui kalkulasi diatas, kita pasti akan merenung karena energi sebesar itu kita buang sia-sia. Sudah saatnya kita berkaca kalau uang yang kita gunakan untuk memenuhi kepuasan kita ternyata begitu besar. Jangan hanya mengikuti pasar industri Barat yang seakan menjadikan Indonesia sasaran pasar empuk dunia. Kita hanya diberi modal luar yang beharga dengan mobil mewah, namun disisi lain kita krisi energi untuk itu. Saya yakin orang yang peduli bangsanya pasti mengerti ini, karena cadangan energi merupakan tombak awal kelangsungan dan kelancaran pembangunan bangsa yang akan menentukan kesejahteraan, keadilan, dan kemakmuran rakyat Indonesia.









0 komentar:

Posting Komentar