"Inikan data, cadangan minyak
kita itukan tinggal sembilan tahun, begitu gak ada lagi minyak di Indonesia
yang milik kita, apa lagi yang akan kita lakukan kalau bukan impor? Ya pasti
impor dong, lah wong sekarang aja udah impor. Importir minyak terbesar di dunia
sekarang, apalagi nanti setelah sembilan tahun, kalian bayangkan,"
Anggota
Komisi VI DPR-RI Edhy Prabowo
Begitulah
sekarang keadaanya, negara yang kita bangga-banggakan akan sumber daya alam
yang melimpah ini ternyata pengimpor besar minyak. Siapa yang disalahkan dengan
kondisi seperti ini ? apakah pola hidup manusia-manusia kelas atas yang tiap
detik menjadi konsumen besar BBM bisa
kita salahkan ? tentu menjawab pertanyaan itu kita tidak bisa berdalih sepihak, toh semua orang juga tidak bisa lepas
dari BBM. Mulai dari kegiatan industri, transportasi, hingga kebutuhan pangan
keluarga pasti tidak lepas dari yang namanya Bahan Bakar Minyak atau yang kita
kenal dengan sebutan BBM.
Fenomena
tersebut memang masalah yang sangat pelik dan butuh waktu yang lama untuk
mengatasinya. Namun, apakah kita salah menghemat penggunaan BBM ini melihat
harga BBM yang semakin melambung dan sebanding dengan semakin sedikitnya
cadangan BBM yang kita miliki. Terlepas dari itu, kita tak bisa pungkiri bahwa
pola hidup rakyat indonesia yang konsumerisme semakin menjerat dan memperkeruh
masalah tersebut. Memang logika tak bisa berjalan untuk negara yang masih
berkembang ini, mudah saja kita masuk dalam perangkap industri modern. Mudah
sekali masyarakat kita membeli barang-barang mahal imporan luar negeri, seperti
yang lagi marak-maraknya adalah mobil.
Sudah
krisis ekonomi, mobil dibandrol harga murah. Niatannya memang baik, namun apa
yang bisa diharapkan dari pola konsumsi BBM yang meningkat seiring dengan
pemakaian mobil yang merajalela. Harusnya kita sadar bahwa pola modern kita
yang kemobil-mobilan, jusru akan
berdampak negatif pada kondisi minyak kita. Hal penting yang harus kita tahu
bahwa setiap hari kita impor minyak sebanyak 150 juta dollar AS atau sekitar
1,7 triliun perhari (kompas.com).
Bagaimana bila konsumsi akan mobil tiap hari bertambah, pasti angka diatas akan
melonjak lagi.
Sudah saatnya kita sadar bahwa bangsa maju bukan identik dengan masyrakatnya yang terlihat kaya dan berpenghasilan tinggi dengan mengendarai mobil. Katakanlah dalam satu keluarga besar yang terdiri dari sepuluh orang maksimal hanya ada dua mobil. Jangan sia-siakan cadangan minyak kita hanya dengan penggunaan mobil setiap harinya. Apakah kita bisa bayangkan bila setiap keluarga besar yang terdiri dari 10 orang yang sebenarnya bisa punya mobil 5 (untuk usia punya SIM) namun kita batasi dengan 2 mobil saja, sehingga dalam penggunaanya sudah hemat 3 mobil ? dan itu artinya kita hemat 3 kali lebih penggunaan BBM. Hal semacam itu kita harus sadar betul, walupun sepele tapi berdampak besar bagi kelangsungan cadangan energi minyak kita.
Kondisi Energi Minyak Indonesia
Definisi
dari BBM (bahan bakar minyak) adalah jenis bahan bakar (fuel) yang
dihasilkan dari pengilangan (refining) minyak mentah (crude oil).
Minyak mentah dari perut bumi diolah dalam pengilangan (refinery)
terlebih dulu untuk menghasilkan produk-produk minyak (oil products),
yang termasuk di dalamnya adalah BBM. BBM dibagi menjadi dua jenis yaitu PSO
(subsidi) dan Non PSO (tidak bersubsidi) yang di desain sesuai kebutuhan dan
jenis kendaraan yang menggunakannya. BBM PSO terdiri dari Premium, Minyak
Tanah, Minyak Solar dan Bio Solar, sedangkan BBM Non PSO terdiri dari Pertamax,
Pertamax Plus, Bio Pertamax dan Pertamina Dex. (ITS nondegree)
Terlepas dari pengertian BBM diatas,
yang paling penting adalah mencermati kondisi BBM terkini kita. Baru-baru ini
seperti yang dilansir oleh Liputan6.com bahwa, cadangan minyak kita hanya
tinggal 3,7 milyar barel itu artinya masih jauh dari cadangan minyak negara
Asia Tenggara lainnya dan masih dibawah Vietnam. Hal tersebut sangatlah kontras
dengan apa yang kita ketahui selama ini bahwa negara kita adalah salah satu
yang terbesar dalam urusan sumber energi minyak. Ternyata kita persepsi kita
salah kaprah, bahkan Indonesia hanya memiliki 0.3% dari cadangan minyak dunia
atau 1/1000 dari negara Venezuela yang sekitar 300 milyar. Hal tersebut
diperkuat dengan pernyataan Wakil Menteri ESDM, Susilo Siswoutomo bahwa kita
tidak boleh berlagak kaya negara Venezuela, nasionalisasi ini, ini segala
macam, lebih-lebih jika dibandingkan dengan negara Arab Saudi yang sekitar 270
milyar dan Qatar yang lebih banyak lagi, padahal rakyat Indonesia jumlahnya
mencapai 250 juta jiwa, ibarat produksi sedikit, dibagi 250 juta tentunya
cadangan kita tidak akan cukup.
Melihat keadaan diatas pasti kita
bertanya-tanya lantas bagaimana dengan perusahaan-perusahaan minyak yang ada di
Indonesia. Fakta lain membuktikan bahwa eksplorasi sumber minyak baru di
Indonesia ternyata mengalami kendala biaya, karena untuk eksplorasi onshore
saja membutuhkan biaya 30 juta dollar, belum lagi akan bertambah untuk
eksplorasi offshore. Sekali gali gagal artinya uang sebesar itu melayang,
apalagi letak energi minyak Indonesia melimpah didalam laut yang sangat dalam,
sehingga perlu banyak pertimbangan untuk eksplorasi. (Situs Resmi ESDM)
Melihat kondisi tersebut jalan
satu-satunya adalah dengan impor BBM. Sudah bukan waktunya lagi kita impor
berlebihan untuk memfasilitasi perkara yang sepenuhnya tidak bermanfaat bagi
bangsa. Sudah waktunya kita menghemat BBM dan sadar akan terancamnya cadangan
energi minyak kita. Siapa yang mau bangsanya impor BBM hingga 140 jutaan liter perhari
?
Ironi Produksi Mobil Murah di
Indonesia
Ritzer menyebutkan, dari moderenisme
melahirkan dua paham yang tidak saja berbeda, tetapi bertentangan, yakni
kapitalisme dan sosialisme. Artinya, modernisme yang diusung Barat adalah
sistim berpikir atau sisitim rasional yang tidak saja membuat orang lupa kepada
jati dirinya, tetapi juga akan semakin bingung dalam menuntaskan masalah hyang
dialaminya. Pada akhirnya, moderenisme akan membawa manusia pada kehancuran tak
terkirakan.
Memang rasanya bangsa ini telah
terjebak pada modernisasi yang membutakan dari mana kita berasal. Kehidupan
modern, kemobil-mobilan nampaknya tak
bisa lepas dari bangsa ini. Bayangkan saja mulai dari masyrakat berekonomi
rendah,menengah,hingga golongan kelas atas, sekarang nampaknya sudah tak asing
lagi dengan mobil. Entah mobil kisaran 50 juta kebawah, 100 juta kebawah,
hingga mobil-mobil mahal yang dimiliki oleh kaum elite. Padahal tak selamanya
kita butuh mobil, kita punya angkutan umum yang dapat beroperasi 24 jam penuh.
Apakah fasilitas akan itu sangat kurang sehingga mengharuskan kita untuk punya
mobil ? saya rasa jumlah angutan umum mulai yang menghubungkan antar kota
hingga provinsi sudah melebihi cukup.
Pendapat saya akan itu sepertinya
tidak sejalan dengan apa yang diterapkan oleh negara yang masih kocar-kacir
ini. Beberapa bulan lalu pemerintah atas nama subsidi tepat sasaran dan
penghematan BBM, dan sekarang atas nama rakyat kecil, pemerintah meluncuran
mobil murahnya. Ironisnya mobil itu bukanlah mobil ESEMKA yang telah kita
kenal, namun justru 60 % komponen mobil buatan luar negeri. Padahal kita tahu
mobil-mobil tersebut bukanlah mobil yang berteknologi terbarukan, namun masih
tetap sama seperti yang lainnya. Masih butuh yang namanya bensin dan minyak
bumi, bukan biofuel dan hibrida.
Secara logika meningkatnya permintaan konsumen pasti akan menekan cadangan
energi minyak kita. Bukannya sekarang kita harus berhemat? Tapi?
Beberapa kaum awam berpendapat bahwa
mobil-mobil murah tersebut tidak memanfaatkan subsidi dari pemerintah. Tapi
coba kita pikir, apakah permintaan akan BBM akan turun dengan hal itu? Tentu
semakin marak peredaran mobil-mobil tersebut di masyarakat pasti akan memakan
cadangan BBM yang makin banyak pula. Setiap kenaikan 1% penjualan mobil
tersebut akan menambah defisit neraca minyak bumi hingga 0,64% (okezone.com). Produksi semacam ini
sebenarnya juga bertentangan dengan ide awal pengurangan subsidi BBM yang
bertujuan untuk mengurangi pemakaian bahan bakar fosil dan mendorong orang
untuk menggunakan energi alternatif. Mobil murah ini bahkan tidak mengakomodasi
gagasan pengalihan bahan bakar minyak ke gas seperti yang pernah dikampanyekan
dulu atau biofuel 2010-2011. Konsep mobil murah ini yang masuk dalam
green-economy seharusnya jauh lebih luas daripada sekedar membangun mobil ramah
lingkungan.
Pembatasan Penggunaan Mobil di
Dalam Suatu Keluarga
Barangkali kita yang ngaku orang
kaya punya lebih dari dua atau bahkan ada yang punya lebih dari lima mobil di
rumah. Hal tersebut dalam teori saya seharusnya dihindari, mengapa saya
berpikiran seperti itu? Kondisi masyarakat yang konsumtif, bahkan seorang
pelajar yang belum bisa mencari penghasilan sendiripun sudah bisa keluyuran
naik mobil sendiri. Padahal apakah manfaat tindakan seperti itu melihat masih
ada fasilitas umum yang tentunya akan sama-sama menguntungkan. Atau sekedar
memiliki mobil untuk kepuasan dan
kegengsi-gengsian, padahal mobil terssebut tidak bermanfaat lebih kecuali itu.
Memang mobil sangat penting untuk kita-kita yang memang benar –benar membutuhkannya
dan keperluan yang benar-benar mendesak, namun untuk contoh-contoh tadi apakah
memang benar bermanfaat ? Melalui hal-hal kecil seperti itu sebenarnya kita
bisa menganilisa dari mana saja kita bisa menghemat pemakaian BBM dari perilaku
setiap keluarga. Karena mengemat pemakaian satu mobil saja yang biasanya dapat
digunakan berkilo-kilo dan membutuhkan berliter-liter BBM tentu jika dikali
dengan total jumlah keluarga pastinya akan menghemat jumlah BBM yang lumayan
besar tiap harinya.
Untuk menjawab itu saya mencoba
melakukan simulasi dengan kalkulasi dengan sampel yang kecil. Semisal dalam
suatu keluarga saya paparkan sebagai berikut:
- Satu
keluarga besar terdiri dari 10 anggota keluarga
- Terdiri
dari 3 keluarga kecil
- Ada
5 orang disitu yang memiliki mobil
Suatu saat keluarga tersebut mengadakan
refreshing pergi kesuatu tempat yang jauhnya 100 km dari tempat mereka
berangkat. Rata-rata mobil yang mereka punya berbahan bakar bensin (1 liter =
6.500 rupiah) .Kemudian mobil yang lagi pasaran sekarang, kira-kira dapat
dinaiki oleh setidaknya 5 orang. Namun mereka justru menggunakan 5 mobil
sekaligus, padahal sebenarnya dengan 2 mobilpun juga bisa.
Melalui sedikit masalah diatas saya coba
paparkan kalkulasi singkatnya :
- Harga
bensin 1 liter = 6.500 rupiah
- 1
liter bensin dapat menempuh jarak 8 km (rata-rata)
- Jarak
yang ditempuh 2* 100 km = 200 km
Kalkulasinya
:
@mobil
= (200/8 )*1 = 25 liter
@mobil
= 25 liter * 6.500 rupiah = 162.500 rupiah
Karena keluarga
tersebut memakai 5 mobil, maka :
5
mobil = 5*162.500 = 812.500 rupiah
atau 812.500/6.500 = 125 liter
Jika keluarga tersebut
dapat menghemat 3 mobil atau dalam artian hanya memakai 2 mobil, dimana satu
mobil diisi oleh 5 anggota kelauarga, maka :
2
mobil =2* 162.500= 325.000 rupiah
atau 325.000/6.500 = 50 liter
Terlihat nyata perbedaan pada data diatas
antara pemakaian 5 mobil dibanding 2 mobil dengan variabel yang sama. Jadi
dengan pemakaian 2 mobil pada kasus diatas dapat menghemat (125 liter – 50
liter ) = 75 liter atau 75*6.500 = 487.500 rupiah untuk satu keluarga
besar saja yang terdiri dari 10 orang anggota. Bisa kita bayangkan jika hanya
ada sepuluh ribu keluarga besar ( 10.000 *10 = 100 ribu orang ) yang melakukan
perjalanan tiap harinya (belum termasuk
pengendara individu lainnya ) , maka kita akan menghemat 75 liter *10.000 =
750.000 liter perhari atau setara 750.000 liter/158 = 4746 barel BBM perhari hanya untuk kasus kecil diatas.
Melalui kalkulasi diatas, kita pasti
akan merenung karena energi sebesar itu kita buang sia-sia. Sudah saatnya kita
berkaca kalau uang yang kita gunakan untuk memenuhi kepuasan kita ternyata
begitu besar. Jangan hanya mengikuti pasar industri Barat yang seakan
menjadikan Indonesia sasaran pasar empuk dunia. Kita hanya diberi modal luar
yang beharga dengan mobil mewah, namun disisi lain kita krisi energi untuk itu.
Saya yakin orang yang peduli bangsanya pasti mengerti ini, karena cadangan
energi merupakan tombak awal kelangsungan dan kelancaran pembangunan bangsa
yang akan menentukan kesejahteraan, keadilan, dan kemakmuran rakyat Indonesia.

0 komentar:
Posting Komentar