Senin, 06 Januari 2014

Pencitraan PEMILU , Biasa ?



Saya memang tidak bisa berdebat, memang saya lebih suka blusukan
Joko Widodo (Gubernur DKI Jakarta)
            Sebentar lagi negara kita bakal menyambut pesta demokrasi. Tentu banyak hal yang terjadi di era kepemimpinan Bapak SBY yang berdampak pula pada kekuatan politik. Bukan hanya partai namun juga calon yang akan kita pilih besok saat Pemilu 2014. Melihat geliat aneh menyangkut kebijakan partai dan beberapa muka-muka politis menjelang Pemilu besok memang bukan hal yang biasa untuk saat ini. Hal tersebut juga berlaku di Pemilu-pemilu sebelumnya. Tentu tujuannya adalah mengambil simpati masayrakat, karena memang itu tujuan demokrasi pemilu kita. Siapa yang banyak dipilih, dia yang menang.

Ke Angkringan Aja !



Mungkin tak selamanya kita bakal tercukupi untuk makan-makan enak yang pastinya bakal ngeluaron duwit banyak. Khususnya ni para pelajar dan mahasiswa yang identik dengan kantong tipisnya. Apalagi lagi kalian yang merantau, tentu pengehamatan uang dirasa cukup perlu, bukan ! Salah satu hal yang membuat mereka terjepit adalah kebutuhan akan makan yang pastinya semua menuntut minimal 3 kali sehari atau ada mungkin ada yang lebih ...hheheh.
Bila ditaksir mungkin bisa lebih dari 15 ribu sehari untuk makan saja, padahal kebutuhan kawula muda tentunya tak cukup hanya untuk makan. Pastinya perlu ni alternatif lain yang dapat mengatasi masalah tersebut. Mungkin lo bisa ngurangin makan kali ya? Eh,jangan..pasti ada banyak yang protes tuh. Atau lo minta uang lebih pada pemasok uang mu?

Coretan Tangan Pemuda




“ Bukalah mata batin lebih besar. Masa sih tidak ada yang menarik perhatianmu? Lihatlah disekitar,” “Tulislah apa saja yang menarik di hatimu. Yang menggerakkan niatmu.” (Atmowiloto : 1995).


Adakalanya kita sadar bahwasanya hidup ini membentuk suatu rantai yang akan berputar siklusnya. Kita tidak mungkin akan mengalami masalah yang sama dalam kehidupan, secepat rantai itu berputar sejauh mana kita berhasil mengatasi kehidupan ini. Kalimat tersebut sangat erat kaitannya dengan perpindahan dari generasi ke generasi lain. Kita tahu bahwa kita akan belajar dari generasi terdahulu , mereka yang memberi arti pada hidup kita, pada bangsa dan negara. Mereka akan merusak kesempatannya atau memanfaatkan masa mudanya juga akan berpengaruh pada kita, pelaku masa depan. Masa muda haruslah masa yang produktif, yang dapat menjadikan makna bagi kehidupannya dan juga kehidupan lingkungannya. Kita bedakan pemuda terdahulu dengan sekarang, produktif zaman dahulu bisa dilihat dari sejauh mana mereka membela negaranya, menciptakan pemikiran – pemikiran baru untuk menghasut penjajah ataupun menjadi orang yang terdidik untuk membangun negara.

Bukan yang Punya Mobil yang Kaya, Tapi yang Hemat Energi yang Peduli Bangsanya



"Inikan data, cadangan minyak kita itukan tinggal sembilan tahun, begitu gak ada lagi minyak di Indonesia yang milik kita, apa lagi yang akan kita lakukan kalau bukan impor? Ya pasti impor dong, lah wong sekarang aja udah impor. Importir minyak terbesar di dunia sekarang, apalagi nanti setelah sembilan tahun, kalian bayangkan,"
Anggota Komisi VI DPR-RI Edhy Prabowo

Begitulah sekarang keadaanya, negara yang kita bangga-banggakan akan sumber daya alam yang melimpah ini ternyata pengimpor besar minyak. Siapa yang disalahkan dengan kondisi seperti ini ? apakah pola hidup manusia-manusia kelas atas yang tiap detik  menjadi konsumen besar BBM bisa kita salahkan ? tentu menjawab pertanyaan itu kita tidak bisa berdalih sepihak, toh semua orang juga tidak bisa lepas dari BBM. Mulai dari kegiatan industri, transportasi, hingga kebutuhan pangan keluarga pasti tidak lepas dari yang namanya Bahan Bakar Minyak atau yang kita kenal dengan sebutan BBM.

Anomali Kenaikan Harga Gas Elpiji (Antara Bangkrutnya Pertamina dan Aspek Politis)




            Seakan menjadi kado yang pahit bagi masyrakat Indonesia di awal tahun 2014 ini. Bagaimana tidak sehari sebelum kenaikan harga gas elpiji nonsubsidi, masyarakat kita dihebohkan dengan perayaan tahun baru. Tentu kita masih ingat seperti apa pesta guna menyambut tahun baru di semua daerah di Indonesia. Seakan berbalik 180 derajat pada Rabu, 1 Januari 2014 atau tepatnya beberapa bulan saja menjelang pesta demokrasi di negara ini, Pertamina seakan memberi mimpi buruk bagi kita dengan menaikkan harga gas elpiji nonsubsidi secara tiba-tiba.