Senin, 06 Januari 2014

Anomali Kenaikan Harga Gas Elpiji (Antara Bangkrutnya Pertamina dan Aspek Politis)




            Seakan menjadi kado yang pahit bagi masyrakat Indonesia di awal tahun 2014 ini. Bagaimana tidak sehari sebelum kenaikan harga gas elpiji nonsubsidi, masyarakat kita dihebohkan dengan perayaan tahun baru. Tentu kita masih ingat seperti apa pesta guna menyambut tahun baru di semua daerah di Indonesia. Seakan berbalik 180 derajat pada Rabu, 1 Januari 2014 atau tepatnya beberapa bulan saja menjelang pesta demokrasi di negara ini, Pertamina seakan memberi mimpi buruk bagi kita dengan menaikkan harga gas elpiji nonsubsidi secara tiba-tiba.
            Tentu ini merupakan fenomena yang aneh, kita tahu bahwa Pertamina sudah merugi beberapa waktu lalu, namun kebijakan ini baru dikeluarkan sekarang dan otomatis rakyat belum menyiapkan antisipasi untuk itu.Yang jadi pertanyaan adakah aspek politis dalam fenomena ini atau hanya kenaikan oleh RUPS Pertamina ? Tentu yang jelas hal tersebut berdampak besar bagi masyarakat kita khususnya sektor ekonomi mikro.
            Hapus paham bahwa negara kita kaya akan energi minyak. Padahal setiap harinya negara kita impor bahan bakar minya 1,7 triliun per hari. Apakah kita masih menganggap negara ini kaya minyak yang seakan kita bangga –banggakan itu? Jika Pertamina menaikkan harga gas elpiji nonsubsidi harusnya sudah beberapa waktu lalu, artinya sangat tak masuk akal bila baru sekarang kebijakan itu keluar. Seakan dengan hal tersebut melalui pernyataan Hatta Radjasa, bahwa pemerintah tidak berwewenang melanggar kebijakan besar itu. Hal itu dikarenakan kebijakan RUPS Pertamina yang beliau katakan lebih berwenang dari pada negara. Pernytaan Hatta Radjasa menggambarkan bukan hanya kita saja yang kaget dengan kenaikan ini, namun pemerintah pun ternyata juga belum memberikan solusi terhadap kenaikan ini. Kita tunggu saja kelanjutannya yang jelas pemerintah memeiliki kekuasaan mutlak terhadap subsidi suatu barang.
            Terlepas dari kenaikan yang tak terduga di awal tahun 2014 ini,  terjadi beberapa fenomena aneh di akhir tahun 2013 dan 2014. Setelah kemarin pencanangan BPJS dan sekarang kenaikan ini entah sengaja atau tidak ternyata hampir bertepatan dengan pesta demokrasi di negara ini. Memang terlalu dini untuk menyebut kehadiran aspek politis dalam kebijakan ini, yang jelas (sudah saya jelaskan tadi) bahwa kenaikan ini sangat tak wajar.
            Untuk kedapannya biar masyarakat yang menilai, yang jelas hampir disemua daerah di negara ini merasa di rugikan dengan kebijakan tersebut. Kita tahu gas elpiji nonsubsidi yang semula kisaran 75 ribu sekarang harganya sudah beragam mulai 150 hingga 2015 ribu. Yang jelas pemerintah belum mengambil langkah positif untuk masalah ini. 

0 komentar:

Posting Komentar