Seakan menjadi kado yang pahit bagi masyrakat Indonesia
di awal tahun 2014 ini. Bagaimana tidak sehari sebelum kenaikan harga gas
elpiji nonsubsidi, masyarakat kita
dihebohkan dengan perayaan tahun baru. Tentu kita masih ingat seperti apa pesta
guna menyambut tahun baru di semua daerah di Indonesia. Seakan berbalik 180
derajat pada Rabu, 1 Januari 2014 atau tepatnya beberapa bulan saja menjelang
pesta demokrasi di negara ini, Pertamina seakan memberi mimpi buruk bagi kita
dengan menaikkan harga gas elpiji nonsubsidi
secara tiba-tiba.
Tentu ini merupakan fenomena yang aneh, kita tahu bahwa
Pertamina sudah merugi beberapa waktu lalu, namun kebijakan ini baru
dikeluarkan sekarang dan otomatis rakyat belum menyiapkan antisipasi untuk
itu.Yang jadi pertanyaan adakah aspek politis dalam fenomena ini atau hanya
kenaikan oleh RUPS Pertamina ? Tentu yang jelas hal tersebut berdampak besar
bagi masyarakat kita khususnya sektor ekonomi mikro.
Hapus paham bahwa negara kita kaya akan energi minyak.
Padahal setiap harinya negara kita impor bahan bakar minya 1,7 triliun per
hari. Apakah kita masih menganggap negara ini kaya minyak yang seakan kita
bangga –banggakan itu? Jika Pertamina menaikkan harga gas elpiji nonsubsidi harusnya sudah beberapa waktu
lalu, artinya sangat tak masuk akal bila baru sekarang kebijakan itu keluar.
Seakan dengan hal tersebut melalui pernyataan Hatta Radjasa, bahwa pemerintah
tidak berwewenang melanggar kebijakan besar itu. Hal itu dikarenakan kebijakan
RUPS Pertamina yang beliau katakan lebih berwenang dari pada negara. Pernytaan
Hatta Radjasa menggambarkan bukan hanya kita saja yang kaget dengan kenaikan
ini, namun pemerintah pun ternyata juga belum memberikan solusi terhadap
kenaikan ini. Kita tunggu saja kelanjutannya yang jelas pemerintah memeiliki
kekuasaan mutlak terhadap subsidi suatu barang.
Terlepas dari kenaikan yang tak terduga di awal tahun
2014 ini, terjadi beberapa fenomena aneh
di akhir tahun 2013 dan 2014. Setelah kemarin pencanangan BPJS dan sekarang
kenaikan ini entah sengaja atau tidak ternyata hampir bertepatan dengan pesta
demokrasi di negara ini. Memang terlalu dini untuk menyebut kehadiran aspek
politis dalam kebijakan ini, yang jelas (sudah saya jelaskan tadi) bahwa
kenaikan ini sangat tak wajar.
Untuk kedapannya biar masyarakat yang menilai, yang jelas
hampir disemua daerah di negara ini merasa di rugikan dengan kebijakan
tersebut. Kita tahu gas elpiji nonsubsidi
yang semula kisaran 75 ribu sekarang harganya sudah beragam mulai 150 hingga
2015 ribu. Yang jelas pemerintah belum mengambil langkah positif untuk masalah
ini.

0 komentar:
Posting Komentar